Peluang Pemain Muda Berkiprah di Liga 1 2021

Peluang Pemain Muda Berkiprah di Liga 1 2021 – Piala Menpora 2021 yang baru saja berakhir tak hanya menasbihkan Persija Jakarta sebagai peraih tropi juara. Ajang pra musim ini juga memunculkan sejumlah pemain muda yang menjadi pilar di klub masing-masing. Pemain sayap PSIS Semarang, Pratama Arhan jadi yang terdepan dengan meraih penghargaan sebagai Pemain Muda Terbaik. Layaknya turnamen pramusim, mayoritas tim peserta memberikan kesempatan kepada pemain berusia 19-21 tahun untuk unjuk kemampuan di Piala Menpora 2021. Borneo FC Samarinda tercatat sebagai tim yang paling banyak memainkan talenta mudanya yakni 6 pemain di babak penyisihan Grup B.

Puncaknya, Persija berhasil meraih juara berkat andil besar dua pemain mudanya, Braif Fatari dan Taufik Hidayat. Keduanya berhasil memanfaatkan kesempatan yang diberikan pelatih Persija, Sudirman yang mengistirahatkan Ramdani Lestaluhu dan Marko Simic. Tuntutan prestasi, nilai bisnis dan pamor klub yang harus dijaga di kompetisi kasta tertinggi membuat mayoritas tim peserta menyimpan potensi pemain mudanya. Malah ada sejumlah klub yang tak hanya menggenapkan kouta pemain asingnya tapi juga menambah kekuatannya dengan merekrut pemain naturalisasi, di antaranya Persib Bandung, Persija Jakarta dan Bali United.

Raja Isa mengungkapkan kesempatan tampil buat pemain muda sangat tergantung keberanian seorang pelatih menanggung konsekuensi yang akan dihadapinya bila prestasi timnya tak sesuai harapan. Di mata Raja Isa, sangat manusiawi bila seorang pelatih takut kehilangan posisinya. “Manajemen dan suporter sebuah tim juga harus realistis. Di mana target di kompetisi harus disesuaikan dengan materi pemain dan keuangan tim,” ujar Raja Isa. Sebagai pelatih, Raja Isa menegaskan dirinya tak pernah takut dipecat karena selalu memberikan kesempatan kepada pemain muda di tim yang ditanganinya. Ia merujuk pengalamannya ketika melatih Persipura dengan memunculkan pemain muda kala itu seperti Emmanuel Wangggai, Stevie Bonasapia dan Titus Bonai.

Begitu pun ketika melatih PSM, ia memberikan menit bermain yang banyak kepada M. Rahmat, Djayusman Triasdi dan Rahmat Latief. Ia juga pernah memunculkan Engelberd Sani ketika menangani Persiram dan Ahmad Noviandani saat mengarsiteki Persija Jepara. “Bagi saya, patokan usia pemain muda adalah 19-21 tahun. Lebih dari itu sudah masuk kategori pemain senior,” terang Raja Isa. Raja Isa melanjutkan kebiasannya itu di klubnya saat ini, Muktijoddha Sangsad KC yang berkiprah di Liga 1 Bangladesh musim 2021. Hasilnya lumayan, dimana tiga pemain mudanya menembus tim nasional Bangladesh. “Di putaran kedua, saya sudah mendaftarkan lima pemain baru yang masih berusia 18. Mereka akan saya mainkan. Mungkin 10 sampai 15 menit di setiap pertandingan. Tergantung situasinya nanti,” papar Raja Isa.

Pada kesempatan itu, Raja Isa juga mengomentari fenomena munculnya pemain naturalisasi di kompetisi tanah air. Di mata pelatih yang musim lalu menangani PSPS Pekanbaru ini, adanya naturalisasi pemain sah-sah saja sepanjang berdampak positif buat sepak bola Indonesia, khususnya prestasi tim nasional. “Pertanyaaan sekarang, seberapa besar peran mereka terhadap prestasi timnas Indonesia? Karena saya melihat banyak pemain naturalisasi usianya sudah tak muda lagi,” ungkap Raja Isa. Penggunaan pemain asing di level klub juga mendapat sorotan Raja Isa. Dalam satu dekade terakhir, tak banyak pemain asing yang datang ke Indonesia bisa jadi role model baik dari sisi teknis mau pun sikap. Terkait hal ini, Raja Isa menunjuk Pierre Djanka sebagai pemain asing yang tak hanya memiliki kemampuan tapi juga kepemimpinan di lapangan hijau.
“Intinya, manajemen tim harus lebih selektif dalam mendatangkan pemain asing. Potensi pemain muda wajib dijaga dan dikembangkan. Jadi, seperti saya bilang tadi, pelatih juga harus berani memberi kesempatan buat pemain muda,” pungkas Raja Isa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*