Memasuki 2021 Dikagetkan Dengan Harga Tempe Tahu Melonjak

Memasuki 2021 Dikagetkan Dengan Harga Tempe Tahu Melonjak – Hari ini dalam perjalanan pulang dari olaha raga bersepeda, saya mampir ke tukang tahu sumedang langganan. Kebiasaan sarapan pagi dengan makan tahu sumedang sebenarnya karena tahu merupakan camilan yang sangat cocok jika dipasangkan dengan minuman teh hangat. Sudah bertahun-tahun memang saya tidak makan nasi untuk sarapan dan menggantinya dengan makanan ringan seperti tahu, tempe, sosis solo atau camilan sejenisnya. Tapi hari ini kok agak berbeda, kebetulan saya sudah menjadi langganan beli tahu sumedang di tempat tersebut dan hari ini jumlah tahu yang didapat dengan uang yang sama kok jadi lebih sedikit. Biasa beli 10 rb dapat 10 biji tahu, tapi kok sekarang beli 10 rb tahunya cuma dapat 6. Ternyata betul apa yang saya baca di berita, harga kedelai melonjak naik dan berakibat dengan naiknya harga tempe dan tahu sebagai produk olahan kedelai.

Lebih menguatkan lagi dimana saat biasanya penjual tahu tersebut bisa berjualan sampai sore, tapi tadi bahkan jam 12.00 saja lapaknya sudah tutup karena stok tahunya sudah tidak ada. Mungkin banyak yg kaget bahwa tahu tempe yang kita nikmati sehari-hari berasal dari kedelai yang merupakan produk impor. Yang nggak percaya hal tersebut berasalan bahwa tahu tempe sudah dimakan oleh bangsa kita sejak jaman indonesia masih dipimpin raja-raja bagaimana mungkin bisa impor? Mereka lupa bahwa jumlah penduduk saat ini juga tidak sebanyak dulu yang artinya demand lebih tinggi dari supply, di satu sisi lahan pertanian kita semakin menyusut. Kedelai lokal yang ditanam oleh petani kita juga kalah saing dengan kedelai impor karena ukurannya kecil-kecil. Bandingkan saja satu bulir kedelai pada tempe dengan kedelai yang dijual oleh penjual jagung rebus keliling yang biasanya menjual kedelai lokal yang dikukus masih dengan batangnya.

Tapi benarkah harga kedelai naik atau ini hanya akal-akalan pihak tertentu saja? Untuk mencari kebenarannya, bisa dicek sendiri oleh pembaca. Sama seperti harga komoditas yang diperdagangkan antar negara, selalu ada harga acuan yang bisa dicari. Komoditas seperti kedelai hampir sama dengan kopi, cengkeh, coklat dan gandum. Salah satu yang bisa dilihat adalah bloomberg.com yang menyediakan data harga acuan komoditas. Seperti yang terlihat dari data bloomberg diatas, dalam rentang waktu 6 bulan ini saja, harga kedelai sudah melonjak dari sekitar USD 900 menjadi USD 1.300. Jika dihitung-hitung, harga kedelai saat ini adalah USD 13,4/bu. Bushel atau “bu” adalah satuan untuk komoditas biji-bijian yang setara dengan sekitar 27,2 kg. Jika dirupiahkan maka menjadi Rp 189.000 per 27 kg atau Rp 7.000/kg. Padahal bulan agustus lalu, harga kedelai masih USD 9,1/bu atau Rp 129.000/ 27 kg. Dalam bahasa yang paling sederhana, hanya dalam kurun waktu Agustus 2020 sampai Januari 2021, harga kedelai melonjak dari Rp 4.700/kg menjadi Rp 7.000/kg. Penghitungan di atas adalah hanya berdasarkan harga acuan pasar komoditas untuk kedelai. Sedangkan tempe dan tahu masih harus menjalani pengolahan lebih lanjut lagi dan biaya distribusi yang harus ditanggung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*