Pembatasan Kegiatan Jawa-Bali Tekan Kasus Covid-19

Pembatasan Kegiatan Jawa-Bali Tekan Kasus Covid-19 – Peningkatan untuk kasus covid-19 di Indonesia semakin hari semakin mengkhawatirkan. Untuk kenaikan angka korban kasus corona ini terus menunjukkan kenaikan yang signifikan. Bahkan data per hari ini, Jumat tgl 8-01-21, jumlah kasus yang terkonfirmasi positif covid-19 mencapai 10.617 kasus, sehingga angka kumulatifnya melonjak menjadi 808.340. Agar penyebaran kasus covid-19 ini tidak semakin menggila, Pemerintah berencana menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM di Jawa dan Bali pada tanggal 11 hingga 25 Januari 2021. Dua pulau ini dipilih lantaran dinilai menjadi penyebar kasus covid-19 terbesar secara nasional. Karena selama liburan pada berlibur ke pulau jawa dan Bali.

Menurut pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo, penerapan PPKM Jawa Bali merupakan hanya sebagai opsi tambahan. Bukan sebagai hal yang mutlak dalam penanganan pandemi covid-19 itu sendiri. “Kalau ada opsi tambahan itu monggo saja. Tapi yang mutlak, harus ada sebagai strategi utama yang tidak boleh digantikan oleh apapun, itu adalah penemuan kasus. Mengapa? Karena kita ini bermaksud memutus rantai penularan. Rantai penularan tuh, orang bisa terjadi penularan kenapa, karena ada penularannya, dan penular ini yang harus diisolasi.

Windu menambahkan, selama ini tidak bisa mencari orang yang positif covid-19, maka kemampuan dalam menangani pandemi terbilang sangat rendah. Atau bahkan kemauan dalam melawan covid-19 masih belum maksimal. “Maka yang terjadi adalah penyebaran virus di bawah permukaan yang tidak pernah bisa terdeteksi dan itu menjadi bom waktu. Dia mengungkapkan tak ada cara lain agar Indonesia terbebas dari bom waktu tersebut. Yaitu dengan menerapkan Tracing, Testing, Treatment atau 3T secara maksimal.

“Jadi yang utama tak bisa digantikan itu testing semasif mungkin dan tracing setinggi mungkin sebanyak mungkin, malah justru yang ini kita justru sangat lemah. Entah karena kemauan kurang atau kemampuannya kurang. Justru yang penting ini yang utama harus dilakukan dan tak bisa digantikan. Ia berharap, kebijakan dari PPKM ini dilakukan secara serius dan matang. Sehingga tidak lagi terjadi seperti halnya PSBB yang telah diterapkan pemerintah daerah. Menurutnya, PPKM harus benar-benar membatasi pergerakan masyarakat.

“Coba baca rencananya (PPKM), pusat perbelanjaan masih bisa buka sampai jam 7 malam, pusat perbelanjaan kan yang dijual macam-macam ada yang enggak esensial sama sekali. Kalau supermarket buka enggak apa-apa karena ada sembako, yang esensial. Dia juga menyoroti penerapan PPKM di Surabaya dan Malang, Jawa Timur. Padahal menurut kriteria PPKM, ada 36 kabupaten/kota di Jawa Timur yang harus menerapkan kebijakan ini. Padahal kalau kita dari sudut pandang epidemiologi ya, Jawa, Madura dan Bali itu satu kesatuan. Harus serempak. Namanya virus itu dibawa oleh orang, enggak bergerak sendiri, selama masih ada pergerakan orang, virus itu akan menular.

“Jadi artinya kalau memang seperti ini ya tidak bakal efektif, sama seperti PSBB yang kemarin-kemarin, enggak efektif, termasuk DKI, kenapa? Karena hanya nama doang substansinya tidak,” ujar dia. Yang terpenting saat ini, kata dia, masyarakat harus tetap dikontrol soal kepatuhannya menjalankan protokol 3 M. Karena sekarang makin lemah dalam menerapkan prokes tersebut. “Sudah turun disiplinnya sekarang ini. Enggak sampai 50 persen yang disiplin. Bayangkan ini bom waktu semua,” ucap dia. Namun begitu, dia mengaku optimistis jika PPKM dilakukan secara total dengan membatasi pergerakan massa yang tidak esensial. Namun dia menyayangkan kebijakan ini baru diambil sekarang.

“Seharusnya di awal-awal kita empat bulan pertama itu periode emas sebenarnya. Ketika masih kecil kasusnya, harusnya saat itu dilakukan gitu dengan sungguh-sungguh, fokusnya jelas, kesehatan masyarakat bukan ekonomi,” ujar dia. Sementara itu, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengaku belum dapat menyimpulkan peningkatan signifikan kasus covid-19 dalam beberapa hari belakangan sebagai gelombang kedua corona. Hal itu, kata dia, harus dilihat dari jumlah kasusnya saja. Dia pun memastikan penerapan PPKM akan dilakukan secara serius. Sanksi menanti bagi mereka yang mencoba untuk melanggar peraturan tersebut. “Sanksi hukum sudah di-Inpreskan Nomor 6 Tahun 2020,” kata dia. Terkait dengan alasan PPKM baru diterapkan awal 2021, Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Airlangga Hartarto mengungkapkan kebijakan itu baru diterapkan sebagai antisipasi lonjakan kasus Covid-19 akibat libur akhir tahun.

“Mengapa dijalankan 11 Januari dan 25 Januari? Karena baru saja libur Natal dan Tahun Baru. Berdasarkan pengalaman habis libur besar terjadi kenaikan kasus 25 sampai 30 persen,” kata Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers secara virtual pada hari Kamis .
Adapun kriteria yang ditetapkan untuk dilakukan pembatasan kegiatan adalah daerah-daerah yang memenuhi sejumlah parameter. Misalnya, daerah yang memiliki tingkat kematian di atas rata-rata tingkat kematian nasional atau 3 persen.

Kemudian, memiliki tingkat kesembuhan di bawah rata-rata nasional yaitu, 82 persen. Selain itu, tingkat kasus aktif di bawah rata-rata nasional yakni, sekitar 14 persen dan tingkat keterisian rumah sakit atau untuk ICU dan isolasi di atas 70 persen. “Daerahnya sudah ditentukan, berbasis pada kota dan kabupaten. Bukan keseluruhan Provinsi Jawa ataupun Bali, tetapi penanganan secara mikro kabupaten/kota sesuai dengan kriteria tadi,” kata Airlangga yang juga Menko Perekenomian ini.

Daerah-daerah prioritas di Jawa dan Bali yang akan menerapkan pembatasan kegiatan masyarakat adalah DKI Jakarta: Seluruh wilayah DKI Jakarta. Kemudian Jawa Barat dengan prioritas wilayah Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, Kota Cimahi, Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, dan wilayah Bandung Raya. Selanjutnya Banten dengan prioritas wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*