Pelabuhan Pelni Akan Menutup Sementara Karena Virus Covid-19

Pelabuhan Pelni Akan Menutup Sementara Karena Virus Covid-19 – Industri pelayaran nasional terpukul terpukul oleh wabah virus Covid-19 yang mengganggu arus barang di sepanjang jalur pelayaran. Selain pengiriman, wabah virus Covid-19 juga merugikan operator kapal penumpang, dengan sejumlah pelabuhan ditutup sementara untuk mencegah penyebaran virus corona. Perusahaan pelayaran milik negara PT Pelni telah mengalami penurunan tajam dalam jumlah penumpang sejak wabah Covid-19 melanda negara itu pada awal Februari, kata sekretaris perusahaan perusahaan itu Yahya Kuncoro di Jakarta pada hari Sabtu, menambahkan bahwa bisnis semakin menurun setelah pemerintah memberlakukan batasan sosial untuk mengekang wabah pada bulan Maret.

Dia mengatakan sejumlah kapal penumpang perseroan, seperti KM Dobonsolo, KM Ciremai, KM Nggapulu, KM Dempo, KM Sinabung, dan KM Leuser, tidak dapat beroperasi secara maksimal karena banyak pemerintah daerah yang menutup pelabuhannya untuk mencegah penyebarannya virus Covid-19. Meski kapal masih diperbolehkan mengangkut kargo, penutupan pelabuhan sangat merugikan bisnis, tambahnya. Sebagian besar pelabuhan di Papua, termasuk di Jayapura, Timika, Agats, Merauke, Nabire, Biak, Serui, Sorong, Manokwari, Kaimana, Fakfak dan Wasior, telah ditutup untuk kapal penumpang. Beberapa pelabuhan lain di Maluku seperti di Saumlaki, Namrole, Sanana dan Dobo juga telah ditutup. Pelabuhan juga telah ditutup di Batulicin dan Bontang di Kalimantan Timur, Waingapu dan Larantuk di Nusa Tenggara Timur, Blinyu dan Tanjung Pandan di Bangka Belitung, Awerange dan Bitung di Sulawesi dan Letung Tarempa di Kepulauan Riau.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pemilik Kapal Nasional Indonesia (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan pada 30 Maret bahwa wabah Covid-19 tidak hanya berdampak keuangan pada perusahaan pelayaran tetapi juga memengaruhi pekerjaan administratif dan teknis mereka. Volume kargo yang diekspor dan diimpor ke dan dari China telah menurun 14 hingga 18 persen. Pengiriman ke negara lain seperti Singapura dan Korea Selatan juga menurun, sementara pengiriman kargo domestik turun 5 hingga 10 persen, kata asosiasi. Proses pembersihan di pelabuhan merupakan tantangan lain yang mengakibatkan biaya operasional yang lebih tinggi.

Proses izin semakin diperumit dengan prosedur tambahan seperti desinfeksi kapal, pemeriksaan kesehatan awak kapal, dan pemeriksaan riwayat perjalanan. “Ini menambah biaya operasional,” kata Carmelita. Carmelita juga melaporkan bahwa upaya menghentikan penyebaran virus Covid-19 juga mengganggu pekerjaan administratif. Dengan diberlakukannya kebijakan jarak fisik dan kerja dari rumah, pelaku usaha mengalami kesulitan dalam melakukan pekerjaan administrasi, seperti memperoleh sertifikat kapal, karena kekurangan staf. Dari sisi teknis, Carmelita mengatakan pemilik kapal juga kesulitan melakukan perawatan karena terbatasnya tenaga yang tersedia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*